Archive for April, 2013

PostHeaderIcon Tenggelam

TenggelamBeberapa waktu yang lalu iseng menanyakan kepada istri saya, “Mengapa jarum yang kecil bisa tenggelam, sedangkan sebongkah kayu yang besar tetap terapung di laut?”

Istri saya menjawab “Karena massa jenis jarum lebih besar di bandingkan massa jenis air, sedangkan massa jenis kayu lebih kecil dibanding massa jenis air. Kalau massa jenis air laut sama dengan massa jenis benda yang ada di laut maka benda itu akan melayang di kedalaman laut”.

Hmmm, penjelasan yang panjang kali lebar kali tinggi seperti guru fisika.

Kemudian saya bertanya tentang hal yang sama kepada anak saya yang berumur 5 tahun. Jawabannya simple, “Karena di laut ada airnya”.

Nah.., mana yang paling benar? Anak saya dong. Karena hukum fisika atas pertanyaan tersebut tidak akan berlaku kalau di laut tidak ada  airnya.

Lalu bagaimana dengan manusia yang kadang tenggelam dalam kehidupan dunia?

Kita meyakini bahwa ada 5 fase kehidupan manusia yaitu alam Ruh, alam Rahim, alam Dunia, alam Kubur dan terakhir alam Akhirat.
Jika anda membaca tulisan saya saat ini, berarti anda telah melewati alam ruh dan alam rahim serta tengah menjalani alam dunia sedangkan alam kubur dan alam akhirat menanti.

Kondisinya sekarang, banyak manusia yang tenggelam di alam dunia. Banyak manusia yang sangat menyibukkan diri dengan mencari kepuasan dunia tanpa kenal waktu dan lelah.

Mengapa bisa tenggelam? Karena dunia ini nyata, keindahannya dapat langsung dirasakan oleh mata, kelezatannya dapat langsung dirasakan oleh lidah, kemewahannya mampu menyombongkan hati pemiliknya dan masih banyak hal lain yang terkait dengan dunia.

Firman Allah SWT dalam Al Qur’an Surat Ali Imran 14 :

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”.

Demikian Allah menciptakan dunia beserta isinya menjadikan manusia merasakan kesenangan di dunia, namun Allah SWT juga mengingatkan bahwa tempat kembali terbaik adalah Surga.

Selanjutnya dalam Surat Al Hadiid ayat 20, Allah menjelaskan;

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu’.

Bagi orang-orang yang beriman, kehidupan dunia yang sementara ini merupakan fase mengumpulkan bekal untuk kehidupan akhirat yang kekal. Jadi sebaik-baik harta adalah harta yang bermanfaat bagi orang lain yang dipakai untuk kebaikan di jalan Allah SWT. Namun salahkan jika kita bekerja keras untuk dunia kita? Tidak ada yang salah, karena dunia ini diciptakan untuk manusia.

“Dan carilah dari apa saja yang telah Allah berikan kepadamu untuk mencapai kebahagiaan di negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan nasibmu di dunia. Dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Qashash :77)

“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Naaziat: 37-39)

Sekarang tinggal bagaimana kita menyelami kehidupan dunia ini, pilih tenggelam atau terapung tanpa tahu arah tujuan, atau pilih berenang dengan tujuan yang pasti. Jika memilih berenang, maka persiapkanlah sebaik-baik bekal untuk berhasil mencapai tujuan akhir.

Salam, semoga selamat sampai tujuan, dunia dan akhirat.

PostHeaderIcon MENANGISLAH

Banyak alasan yang membuat orang menangis, meneteskan air mata. Sejak zaman Nabi Adam hingga sekarang, saat terlahir ke dunia hampir semua manusia menangis. Bayi menangis saat merasa haus dan lapar. Anak-anak menangis ketika terjatuh atau sakit. Remaja ada yang menangis ketika putus cinta…*hmmmm dan seterusnya.

Orang bisa menangis pada saat sedih, kecewa, atau kehilangan sesuatu. Tidak sedikit juga yang menitikkan air mata saat mendapatkan kebahagiaan.

Rasulullah SAW menangis pada suatu malam di waktu shalat sampai basahlah bagian depan pakaian beliau, kemudian ketika duduk (dalam shalat) beliau masih terus menangis sampai janggutnya basah dan beliau masih terus menangis hingga tanah (tempat beliau shalat) pun ikut basah karena tetesan air mata.

Lalu datanglah Bilal untuk adzan shalat Subuh, ketika melihat Rasulullah SAW menangis, Bilal berkata, “Wahai Rasulullah, engkau menangis? Padahal Allah telah mengampuni dosa engkau yang telah lalu maupun yang akan datang?”

Maka Rasulullah SAW menjawab, “Apakah aku tidak ingin menjadi hamba yang pandai bersyukur? Sesungguhnya malam tadi telah turun sebuah ayat kepadaku, sungguh malang orang yang tidak membacanya dan tidak merenungi kandungannya.”
Ayat tersebut yaitu (yang artinya): “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pertukaran malam dan siang, sungguh terdapat ayat-ayat (tanda-tanda) bagi ‘ulul albab’ (ahli fikir).” (QS Ali Imran : 190)

Ibnu Jauzi bercerita bahwa pada suatu ketika berjalan bersama tokoh sufi Malik bin Dinar, mereka mendengar seorang Qori membaca surat Al Zalzalah ayat 1 yang artinya: “Apabila bumi telah diguncangkan dengan guncangan (yang dahsyat),”
ia melihat Malik bin Dinar mulai menyeka air matanya, kemudian pada saat sampai ayat terakhir (ayat 8 ) yang artinya: “Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.’
Maka seketika itu Malik bin Dinar pun menangis tersedu hingga pingsan.

Riwayat lain mengisahkan pada suatu malam Umar bin Abdul Aziz, salah satu seorang khalifah bani Umayyah sedang shalat malam, ketika beliau membaca surat Al Mu’min sampai pada ayat 71-72 yang artinya: “ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret, kedalam air yang sangat panas, kemudian mereka dibakar dalam api,”
Kemudian beliau mengulang-ulang ayat tersebut dalam shalatnya dan terus menangis tersedu-sedu.

Banyak sekali riwayat yang menceritakan tentang ‘air mata generasi terbaik’ yang menunjukkan betapa kecintaan dan ketaatan kepada Allah SWT serta betapa rasa takut akan azab dan siksa Allah telah membawa para sahabat Rasul dan para sholihin mampu memaknai dan mentadaburi ayat-ayat Allah hingga berurai air mata.

Ibnu Abbas berkata, saya mendengar Rasulullah SAW berkata: “Dua mata yang tidak bisa disentuh api neraka adalah mata yang menangis di keheningan malam karena takut kepada Allah, dan mata yang berjaga dimalam hari karena membela agama Allah.” (HR Tarmudzi dan Abu Na’im).

Lalu, adakah tangisan dan tetesan air mata kita selama ini karena Allah, mengharap ridho dan ampunan Allah? Atau jangan-jangan air mata ini lebih sering keluar karena kehilangan duniawi.

Allah SWT berfirman dalam surat At Taubah ayat 55 yang artinya:
“Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir'”

Menangislah, menangislah hanya karena Allah.
Menangislah bila itu bisa menjadikan kita semakin dekat dengan Allah. Jangan sia-siakan air mata kita untuk sesuatu yang tidak ada nilainya di hadapan Allah. Karena hanya kepada Allah lah kita semua akan kembali.

Semoga Allah merakhmati kita semua. Aamiin.